Social Icons

Pages

Selasa, 09 April 2013

pada tanggal 9 pagi dihari selasa bulan apri tahun 2013
saya berkesempatan nginap di Rumah Pak Anton Guru PNS SD di kampung Sungai Bening kecamatan sajingan, hanya 8 km sebelum Border Aruk Kabupaten Sambas.

pukul 06.00 pagi Deni sudah menuju sekolah, saya kelas tiga (3), saya paling suka main bola, kemudian disusul juga oleh murid yang lain. tapak dengan semnagatnya Deni mengayunkan kakinya sembari mengajak Musni dan saudaranya yang sedang memasang sepatu.semarak sepanjang kampung Sungai Bening ditancap kayu Glagar, di cat warna merah putih mewakili warna kedaulatan Indonesia, karna hari ini hari selasa semakin menambah rancak suasana kampung, ternyata memang semnagat ke-Indonesia-an kini tetap melekat di batas negara.
semangat para murid menuju sekolah terlihat antusias, Kami paling senang kalau setiap hari bisa belajar di sekolah, karena sepulang sekolah kami juga ikut orangtua ke ladang, sekarang sedang musim bahanyi (panen) ataupun ke-kebun kopi, lada dan karet, kata Deni. jika malam hari sepulang dari kebun kami langsung mandi di sungai, malam kalau tidak capek belajar pake lampu "Gulita" (pelita),lalu langsung tisur, begitulah setiap harinya. memang di sini tidak ada penerangan PLN. kaluapun ada di kota kecamatan atau di kawasan Border Aruk, kami ngalir dari Listrik Saudara kami di sebelah (bagian malaysia timur distric Lundu) sambung Pak Sobot Sekretaris Desa Sabunga, sebuah Desa yang secra kebetulan dilalui jalur Border, seolah diuntungkan dengan adanya Border, namun mereka tidaklah sebebas dahulu berpergian mengunjungi sanak-saudaranya ketika belum ada Border, kami hanya bisa kesana dengan radius 500 meter, padahal rumah kami bersebelahan, jika mau saling mengunjungi untuk sejenak tahu kabar keluarga, kami harus menggunakan passport atau kalau mau aman bayar RM.30, kami juga perlu makan tambah penjaga Border.

situasi ini bisa saja berubah jika kita semua di sejahterakan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar