Social Icons

Pages

Kamis, 23 Mei 2013

Bertahan dalam Akses Batas Negara

Hari ini dapa pengalaman baru lagi
ini kali ke-2 nya disyuting oleh wartawa TV Nasional.
kalau dulu Raksasa nasional, hari ini anakan media elektronik diantara raksasa itu. bukan juga secara kebetulan narsis, tapi karna pernah melatih ORANG KAMPUNG menulis di internet untuk memberikan informasi sebagai warga negara terkini langsung kepada publik dunia maupun pemerintah struktural RI.

Temanya sederhana saja bagaimana masyarakat menuliskan pengalaan sehari-hari disekitar kampung masing-masing 5 kabupaten perbatasan dengan ragam kebutuhan mendesak. paling mereka hanya butuh halihal sederhana seperti energi Listrik, akses informasi juga transformasi.

kalau menyimak, melihat, merasakan dalam lebur diaktivitas keseharian mereka, kita dapat dipastkan akan menemui beberapa kendala. diataranya bagi kita yang sudah terbiasa menggunakan energi listrik disetiap berkegiatan, misal perlu charger Hp, Labtop, DVD/CD, hingga nonton TV tidak bisa seharian atau 24 jam. disana terbatas, kita bisa menikmati itu semua jika malam hari saja (pukul 18:00-20:00) kalaupun pingin 24 jam maka kita harus membeli solar/bensin seharga Rp. 10.000-12.000,- per liter x 2 Ltr per jam jadi total Rp. 240.000 - 288.000,- kalau saja sebulan penuh maka total Rp. 8.640.000. fantastis, luar biasa dan sangat menggelikan. hanya untuk mendapatkan kemudahan komunikasi saja dalam 1 bulan perlu nominal hampir 10 juta rupiah, belum kebutuhan sembako, pangan dan papan, entertain, dll....

sungguhpun mengalami hal ikhwal diatas, warga perbatasan masih senang dan bertahan dalam keadaan itu. mereka mencoba melakukan banyak upaya alternative untuk bertahan hidup dalam serba keterbatasan akses. 

Minggu, 05 Mei 2013

Pandangan vs Jati Diri


Hidupku berteduh pada pikiran
Bertahan selalu akan Pengalaman
Bersayup di-Sudut kota, WEST BORNEO
 Tempo kini ku-tak tampak,namu menetap disekujur aliran nadi : Bateng, Beringin, Bintang warna biru, dan lahir disetiap banyak tanda, hingga Pada gerakan perubahan, Kata "mereka"

Masih pada kata "mereka"
Hidupku akan enak, akan nyaman, akan tentram, akan sejahtera
Hanya Jika =, dengan satu syarat !
Aku menyerahkan bagian-perbagian dari anggota tubuh-Ku
Dilucuti, tanpa sepengetahuan-Ku, tanpa surat perintah, entah darimana?
Ada Perjuangan...... Perlawanan....

Senin, 22 April 2013

Kearifan Komunitas

Hidup dalam zamannya
Manusia di tanah air sepanjang nusantara, hidup dengan kebiasaankomunitas masing-masing satuan masyarakatnya.
dalam keseharian membentuk siklus kehidupan per-skala waktu tertentu dan diwarisi oleh generasi berikutnya. pengalaman-pengalaman hidup bersama dengan masyarakat lainnya, bersama alam ciptaan yang Maha Kuasa serta pemanfaatan hingga jalinan magis pelestarian ekosistem tradisional lahir semenjak komunitas terbentuk dan ditersukan hingga sekarang.
keseharian ekosistem itu menempa alam sekitar, bagi Manusia yang merupakan bagian dari ekosistem itu sendiri, mendapat porsi yang baik bisa memanfaatkan bagian ekosistem lainya sekedar bertahan hidup. pada prinsipnya untuk kesejahteraan bersama, berkenan untuk kebaikan alam simbiosis mahkluk. sederet ragam keseharian bagi manusia memang bagaimana mengambil manfaat seperlunya dari hutan untuk berburu dan meramu serta untuk kepentingan obat-obatan tradisional, sungai sebagai tempat mencari lauk - pauk, tanah untuk berladang dan bercocok-tanam hingga manfaat lainnya.

bagi tetumbuhan, takan pernah menjerit jika termanfaatkan tanpa budaya, sekali-sekala hanya menyungguhkan ekspresi kejadian alam sebagai peringatan dibalik fungsinya penyedia segala kebutuhan konpleks mahkluk sekitar.

Bagi Hewan dan Binatang, sungguh luar biasa berjasa menyediakan tali-temali untuk rantai makanan hingga membentuk hubungan timbal-balik antara manusia-tetumbuha-hewan dan binatang-serta alam magis saling terhubung ke-bagian peran dalam ekosistem seiring waktu.

perlu hubungan harmonis untuk mempertahankannya

Selasa, 09 April 2013

pada tanggal 9 pagi dihari selasa bulan apri tahun 2013
saya berkesempatan nginap di Rumah Pak Anton Guru PNS SD di kampung Sungai Bening kecamatan sajingan, hanya 8 km sebelum Border Aruk Kabupaten Sambas.

pukul 06.00 pagi Deni sudah menuju sekolah, saya kelas tiga (3), saya paling suka main bola, kemudian disusul juga oleh murid yang lain. tapak dengan semnagatnya Deni mengayunkan kakinya sembari mengajak Musni dan saudaranya yang sedang memasang sepatu.semarak sepanjang kampung Sungai Bening ditancap kayu Glagar, di cat warna merah putih mewakili warna kedaulatan Indonesia, karna hari ini hari selasa semakin menambah rancak suasana kampung, ternyata memang semnagat ke-Indonesia-an kini tetap melekat di batas negara.
semangat para murid menuju sekolah terlihat antusias, Kami paling senang kalau setiap hari bisa belajar di sekolah, karena sepulang sekolah kami juga ikut orangtua ke ladang, sekarang sedang musim bahanyi (panen) ataupun ke-kebun kopi, lada dan karet, kata Deni. jika malam hari sepulang dari kebun kami langsung mandi di sungai, malam kalau tidak capek belajar pake lampu "Gulita" (pelita),lalu langsung tisur, begitulah setiap harinya. memang di sini tidak ada penerangan PLN. kaluapun ada di kota kecamatan atau di kawasan Border Aruk, kami ngalir dari Listrik Saudara kami di sebelah (bagian malaysia timur distric Lundu) sambung Pak Sobot Sekretaris Desa Sabunga, sebuah Desa yang secra kebetulan dilalui jalur Border, seolah diuntungkan dengan adanya Border, namun mereka tidaklah sebebas dahulu berpergian mengunjungi sanak-saudaranya ketika belum ada Border, kami hanya bisa kesana dengan radius 500 meter, padahal rumah kami bersebelahan, jika mau saling mengunjungi untuk sejenak tahu kabar keluarga, kami harus menggunakan passport atau kalau mau aman bayar RM.30, kami juga perlu makan tambah penjaga Border.

situasi ini bisa saja berubah jika kita semua di sejahterakan!

Senin, 18 Maret 2013

Gambaran NKRI dalam Borneo

Kalau Hidup di Kalimanatan Barat, pastinya harus sedemikian bertahan dex, Ka,  Nak, Bu, Pa, Nek, Kakek....
Kita di bawah Terik mata hari, bergumul menaklukan hujan badai ekonomi.
menjelang Senja tak berarti, istirahat. bukan waktunya!
Sejenak, sampai fajar menjadi kelelawar NKRI.

Heerrr..... rah....
Hanya mendengarkan Samar hiruk-Pikuk Senayan, tapi tak kunjung berwujud.
Menjadi dambaan Setan Impian.

Ibarat sang semut yang mati ditengah tumpukan gula aren, dan Burung kacir-lah pemusnah sahabatnya
hhhheerr...... rah....
alamnya kaya.
ditumbuhi Duit Ringgit...
hasil Bauksit dan Sawit, dimana karet....?



Warga Ulayat ASdat vs PT. an. Sawit




Sebaliknya,

Disungguhkan cerita manisnya Indonesia, karna menafkahi "lagi-lagi" Senayan dangan alasan Otonomi dan kawannya Desentralisasi...


Tampak Limbah Bauksit
Meluber ke-Sungai di Tayan Hilir
Sanggau - Kalbar

Heeerrrr...... rah... tak jelas rakyat yang mana?
Terlena dan Berduka



Siantan Permai, 19 maret 2013

Sabtu, 02 Maret 2013

dinamik hidup

katanya hidup saat ini tidak statis, banyak hal mempengaruhi pilihan hidup sehari-hari.
inovasi tingkah-laku juga turut meramaikan pilihan tersebut, apakah pilihan itu cocok atau malah kurang pilihan. maka demikianlah perlu banyak pandangan kita dalam menentukan pilihan tersebut.
boleh-boleh saja dalam keseharian kita menyungguhkan antara lain pilihan itu. semoga pilihan - pilihan itu meberi pilihan terbaik dan berhasil memilih pilihan.....

Minggu, 17 Februari 2013

Setelah Sarjana Hukum

bulan-bulan ini sibuk konsultasi Skripsi

wah, deg - degan rasanya kalau sudah konsultasi. dengar pengalaman kawan-kawan sebelumnya.
apalagi kali keberapa kalinya nih, mau up date info kampus sebagai alasannya ketemu DOSEN ..... 
eh, itupun perlu atur nada nafas segala. alhasil mau dapat cepat acc tanggal jatuh tempo sidang yang dalam benakku akan diplonco abis-abisan nih secara akamis, katanya!.... tapi masih banyak syarat administrasi kampus belum tersentuh. Rupanya sakit ya jadi "MAHASISWA", pantasan kebnayakan kawan sebaya dan kolegaku lebih memilih langsung kerja? 

tapi bagiku pribadi, harus menyelesaikan tanggungjawab atas pilihanku 5 tahun silam. maunya kuliah.... supaya bisa kenal banyak orang. karna kalau tamat sekolah aku harus diam dikampung karna memang dari pedalaman sintang yang tak ada akses transportasi, informasi dan penerangan. aduh itu mah pengalaman turun - temurun. dnegan banyak kenalan minimal bisa menikmati fasilitas negara meskipun numpang di kampung kawan hhhe....

masalalu....
tapi sekarang ku tetap pengen kuliah, yg konsekuensinya yah harus menjalani prosesi kesarjaan, seperti kawan-kawanku 1 angkatan sudah kabur dari kampus, kerja di berbagai instansi dan banyak juga langsung merintis usaha sendiri. sementara ku masih bercokol dalam bulan februari 2013 kini biyar cepat pulang kampung.

ha ....?
pulkam (pulang kampung) ?
maunya cepat pulkam!
supaya bisa kembali jadi petani cabe (Rangki) sekaligus jadi Toke Pengolahan Rangki Kampung Pakak. khan keren toh, Sarjana Hukum jadi Petani di kampungnya sendiri.