Social Icons

Pages

Selasa, 05 Februari 2019

Inisiatif Warga


Pada awal januari, 2019.
Kesungguhan warga kampung untuk terlibat pembangunan "dari desa membangun Indonesia" mulai menggeliat.
Gerakan itu murni muncul secara sadar, bahwa kekayaan alam kampung Pakak yg didiami 300 KK sangat memungkinkan cukup untuk memenuhi kebutuhan keseharian rumah tangga keluarga. Apalagi jika dikelola terencana, peruntukan tepat sasaran, dikerjakan mandiri berwawasan keselamatan pingkungan supermarket hidup perkampungan, berkenjutan hanya dengan model sederhana namun bisa menjawab pelbagai masalah yg ditimbulkan baik pengaruh dari diri kesatuan masyarakat maupun dari luar komunitas basis warga.

Brsmbng

Minggu, 30 Juli 2017

DID Living to Singkawang

Dihari-hari istimewa bagi para kawum muda  katolik asia, beragai ekspresi kesukaan, gembira, bahagia lengkap dengan rasa persaudaraan dari satu sumber Sang Pencipta. Event ini kali ke-7 dihelat dan Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah kegiatan yang penuh ragam multikultural antara suku-bangsa layaknya jejak ķejayaan budaya nusantara dimasa lalu.

Dalam pembukaan DID-Pontianak, Mgr. PIUS RIANA, Pr yang juga sebagai ketua Komkep KWI, menegaskan bahwa "inilah kesempatan orang muda katolik mengasah hati dan budi, dalam perjumpaan Jeaus Kristus yang lahir, hidup, mati dan bangkit ditanah Benua Asia"

Pesan moral yang syaray spiritual itu menyentuh mata, telinga dan hati para peserta hingga umat yang hadir bersama di Greja Katedral St. Yosef Pontianak di Jl. Gajah Mada khusuk masuk pada relung hati yang terdalam. Tampak sumringah semua ke-35 pastor (delegasi sintang, sanggau, ketapang, Miyanmar dan India), Uskup Agung Mgr. Agustinus Agus, Pr, suster dan umat menghayati kata demi katanya.

Dan pada akhirnya, jargon Joiful Asian youth day 7th, Living the Gospel Indonesia Multikultural Asia disanjungkan dan participan menyambut dengan celebrasi koor : joyful, jos 3x, Indonesia, jooosss....

Setelah misa usai, participan menuju lokasi paroki livin diantaranya ; Pemangkat, singkawang (kebetulan saya disini, dirumah Pak Wilibrodus jl. Antasari, ortu baru yg kece hhhe), Fahauman, Karangan, Ngabang, Bandol, dan Rasau Jaya.

Karana suadah 01:45 pagi, pesan Mama & Papa Will rehat dulu, hujanpun membasahi kota amoy....
Good night, GBU all

Senin, 08 September 2014

Dahas Ladang Berpindah

Dahas Pak Gampau
1-4 september 2014

Banyak Orang-orang berpergian selalu ingin mengunjungi tempat-tempat terindah, suasananya menyenangkan dan berharap sepulangnya mendapat pengalaman baru, menarik yang bisa menimbulkan kepuasa batiniah bisa berseri.

Banyak orang juga punya gambaran akan berkegiatan sesuka hati, lepas dari beban kerja. sederhananya "pengen bahagia" idealnya para sufi sepanjang zaman.
Pengalaman kali ini, saya berkesempatan mengunjungi beberapa Kampung dipedalaman Kecamatan Jelai Hulu dan Kecamatan Tumbang Titi persisnya dikampung Petebang Jaya, Pasir Mayang, Tanjung Beulang, Ragga Intan (pemenang lomba desa tingkat Kabupaten Ketapang dan Juara II lomba Desa Tingkat provinsi Kalimantan Barat).

Rabu, 18 Juni 2014

Sharing Ngiemail....

Malam Rabu, di Melawi bersama kawan-kawan muda yang sedang belajar membuat email da situs web blog setelah pelatihan lokakarya "Bagaimana cara mengelola hutan Lestari"...

Ilustrasi saja

Minggu, 08 Juni 2014

Panen Cabei Rawit



Oyok ketua KTM PPB Loncek
Ikut Panen Cabei Pakak di Sintang
Oyok, Ketua kelompok tani muda palambon pucuk baguas Loncek kabupaten Kuburaya. berkunjung ke Kampung Pakak ikut panen cabe.

Dengan semangatnya kesepuluh jarinya memetik buah cabei dari satu pohon kepohon lainya. Meski harga sedang murah; hanya Rp. 100 - Rp. 3000 per kilogram tak sebading harga beras Rp. 9000 yang paling murah. 3 Kg cabei = 1 Kg beras, belum gula dan kebutuhan sembako lainya.
Warga kampung Pakak berharap : harga cabei dipasar sintang segera stabil supaya mereka bisa melanjutkan hidup dengan baik.
kondisi ini sangat mempengaruhi usaha warga kampung Pakak, untuk sementara ini belum ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten sintang (Dinas Pertanian, DisperindagKop) Padahal sejak tahun 2005 warga kampung Pakak telah focus berkebun cabei, rata-rata hasil panen warga berpenduduk 1800 jiwa (375 KK) ini frekuensi per-harinya 1-4 ton.

Ditahun 2014, kini musim hujan semakin memperparah jalan akses masuk kampung yang keseharian digunakan warga untuk membawa hasil bumi ke kota sintang dan sekitarnya, kondis ini mengakibatkan hasil yang didapat warga petani tak sebanding dengan sumberdaya hasil bumi yang ada.

Selasa, 29 April 2014

Hidup Sosial Comune

Hidup dalam komunitas.


Dahulu diabad 19 terakhir, diperkampungan pinggiran kota atau bahkan dipedalaman. sekalipun masih menggunakan surat sebagai alat penyampai pesan, dalam keluargaku sering tatap muka. moment itu biasanya pada waktu tertentu, bisa saja kala musim durian atau buah tahunana lainya. Seperti Mentawa, Sibau, Kemayau, Langsat, atau musim lain seperti Gawai kampung, peseta keluarga dan peristiwa pengobatan jika ada diantara anggita keluarga mengalami sakit.

Hidup dipinggiran dan pedalaman telah banyak memberi ruang budaya, kegiatan sehari-hari dilakuka disekitar dan didalam hutan, alamlah yang mendidik kami dari usia belia. kehidupan itu seolah menjadi siklus hidup setiap generasi. menyenangkan, asyik karena banyak pembelajaran yang terjadi secara alamiah.

Minggu, 27 April 2014

Calon Pemimpin Demokrasi 69

Hujan dari pagi, dikota Pontianak.
hujan awet hingga siang, ini sebagai berkah khatulistiwa, sudah lama memang tak pernah turun hujan. ketika tetesan hujan berturunan kebumi, saya menyingkrakkan kaki ke-tanggapintu Kantor Walhi.
Disana Sudah ada Bang hendrikus Adam menunggu untuk sekedar bercengkrama soal masa lalu untuk masa depan.
Entah apa yang dimaksudkan, tapi saya jalan saja masuk. ternyata benar sungguh duagaanku. ada banayak up date informasi setelah beberapa waktu tak bersua. tiba-tiba sungguhan informasi pertama tentang lagu JOKOWI untuk PRESIDEN.

Sabtu, 29 Maret 2014

Cerita Gila Mengartikan Senja.

Umur Kampung dengan Geleri Gelirya

Pangkalant  Palmdalale Jahanang Loncek
Loncek adalah kata yang sangat mudah diucapkan tapi jarang digemakan. Kini adalah musim bunga durian mekar, bisa dihitung 6 bulan kemudian akan panen durian Parene’k-an.  Dirumah Pak Eti’ atau sebut saja Bapaknya Edi kawan sakarayungan (sahabat karib), masa ini pula sedang tak berduit, tapi hobby jalan kekampung-kampung.
Apalagi anehnya kita tak punya pekerjaan. Makanya saya sering mensugesti otak dan pola pikir dengan kata “GILA” yang dalam komunitas KTM PPB (kelompok tani muda palambon pucuk baguas) diadaptasikan dengan defenisi apa yang selalu akrab dengan ide-ide nakal, menghentakan pikiran siapapun yang mendengarnya.
Uniknya lagi ide-ide itu sederhana, biasa dibicarakan kalangan tua atau setidaknya orang-orang kampong yang sudah berumur atau sedang menikah, juga pembicaraan itu diulang-ulang setiap malam nonton sinetron, setiap pagi diteras-teras pelataran, dibawah pohon cempedak; tempat paforit bagian Bansal melafalkan angka mulai dari jumlah 1, 2, 3, dan 4 sekiranya disela mesin genset (generator set-up atau Diesel jenis TS, Dompeng 13 dan kulita/pelita) bersahutan dari ujung kumangk’ ai’ , Bansal, Kalampe, Paser, Lola hingga katiak Sambas, Jahanang serta Sawit palmdale seirama dengan Bensol dan piringan somile menghadirkan rupiah demi rupiah.

Selasa, 18 Maret 2014

Bernasib Recehan

Seringkali banyak hayalan jika terdiam, termenung, termanggu malah saat berdiskusi hayalan bisa muncul kapan saja.
Hari ini diperjalanan rute kalstar Pontianak-Ketapang.
Setelah bording pass, antrean naik tangga berjurut dibelakangku si-belia mungil ada polesan gincu kemerahan serasi degan gaun berumbai membalut lengan hingga betisnya, ada pita rambut juga mengurai rapi rambut kliwirnya persis  mirip rambut ikal sebahuku.

Mulut lincah si-Belia menitah Ibunya, segera ; ayolah Bu, tak sabar mendahului. Dengan semangat berkata kembali "ayolah Bu", ayo, saatnya kita setelah Abang itu baru giliran kita, sambl menggendong adik laki-lakinya. sepanjang perjalanan Si- Belia menyanyikan lagu Bintang kecil, Lihat kebuku berulang-ulang, rasanya semua telinga penumpang konsen dengan suara khas sincna atau spongebop.

Selama mengudara saya tepat di posisi 3D arah jendela, mataku tak berkedip menyaksikan lurusan baling-baing sayap dengan landscap muara kapuas, hamparan lautan dan pulau serta tetumbuhan rapi disepanjang endemik gambut kalbar, seragam, indah tanaman kebanggaan pembangunan kalimantan disektor swasta, penghasil renyah dapur para ibu muda diperkampungan. sekaligus penyedap rasa dari sari palm oil

Kamis, 20 Februari 2014

Kreaktivitas Anak Muda Kalbar

Hari ini, Kamis 20 februari 2014.
Sangku Sui. ambawang kuburaya.

By : Bosio Ngelangkui

SMPN 4 Sui. Ambawang, diundang oleh ketua pengurus organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) untuk memotivasi kawan-kawan perangkat OSIS untuk belajar bersama bagaimana cara melakukan kegiatan-kegiatan kreativ siswa dilingkungan sekolah?

Eduardus, ketua OSIS dengan semangatnya mengajak kawan-kawan perangkat OSIS mari bergiat diri kita mulai memanfaatkan apa yang ada pada diri kita... :)

ditambah riuh tepuk tangan setelah Laurensius Edi memandu bagaimana cara menuliskan apa yang ada dalam bayangan mereka tentang hal-hal yang yang ada disekitar termasuk apa yang dialami dalam setiap aktivitas keseharian anak-anak seusia remaja (kelas 2 SMP) kebnayakan dilingkungannya masng-masing. secara khusus di jalur Trans kalimantan sepanjang sui. Ambawang. 

Mereka sangat senang ria, sambil interaktif satu sama lain, tapi suasana tampak tegang kala saya bertanya-jawab; menurut adik-adik bayangan apa yang bisa dilakukan saat akan, melakukan persiapan kegiatan sekolah,misalkan Ekscool?

kebanyakan mereka mengatakan persiapan dimulai dengan rapat perancang kegiatan bersama pembina layaknya sebuah syarat pengorganisasian tingkat mahasiswa yg sering saya lakukan dulu. hasil dari rapat itu adalah antaralain ; pembagian tugas kerja secara kelompok, waktu dan tempat pelaksanaan, target capaian kegiatan. nah rasanya tidak ada yang kurang karena kegiatan ini sudah merupakan turunan dari OSIS sebelumnya bahkan dari DIKNAS cabang daerah, tidak ada duanya lagi.

Tapi setelah saya curi tahu, bagaimana hasilnya? ternyata banyak yg "nyeletuk" bahwa banyak teman-teman yang tidak melakukan tugas dan fungsinya bahkan setiap kali berganti kepengurusan program/kegiatannya masih sama, operasi semut (pungut sampah ramai-ramai setiap jumat), pramuka, olahraga juga mengulangi perasaan makan ati yang berulang pula karena kenyataanya kegiatan itu "bukan merupakan bagian kesengan anak seusia mereka" masih remaja, 13 tahun-an.

Pantas saja kalian loyo dan tegang sekarang, karena rasa kesenagan kalian tidak tuntas! review ku.
.....mengapa? karna jelas ini mandat kegiatan turun dari atas bukan berdasarkan kemauan siswa, meskipun atasnama kegiatan reguler OSIS. 
Selanjutnya, saya menawarkan sebuah model komunikasi (cara penyampaian) tujuan target kegiatan, dan bagaimana target kegiatan itu menjadi kebutuhan dasar daya kreaktiv dari siswa, bukan dari orang lain! Orang lain hanya sebgai pembimbing dalam proses pencapaian target berkegiatan siswa.

Artinya secara sadar calon-calon pemimpin generasi muda kalbar masih dibangunkan oleh rentetan panjang stuasi kesadaran didik oleh orang lain, kalaupun ada tapi langka orang yang mampu bertahan dan berjuang dalam situasi akses pendidikan masih pada level terbatas, belum ada kesadaran itu muncul dari satu atau sekelompok murid bekerjasama dengan guru melakukan terobosan inovasi "pola" didik yang membumi dan terasa enak dilakuka siswa.

Karena organisasi dan pengorganisasian kecerdasan murid dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh konteks lingkungan dan mandataris situasi sosial budaya sekitar, jika ini dominan maka budaya meniru pada level keturuna. sementara yang diinginkan generasi calon pemimpin mudak kalbar kelak kekuatan yang langsung bersumber  pada diri anak didik, hanya saja "jeda" yang seolah menyeka proses pencapaian itu masih dipelihara oleh sistem pendidikan nasional yang diturunkan dalam benih pola didikan sekolah nasional. akan menjadi berbeda perlakukannya ketika diterapkan dikalbar, sehingga tak mengherankan jika diadatasikan seringkali terjadi benturan nilai (velue) dampaknya kemudian ketika si-calon pemimpin dari genersai muda ini menduduki jabatan atau berjaya menjadi Tokoh Masyarakat yang tidak diperhitungkan zaman.

akhirnya. hari ini telah terjadi perubahan cara pikir anak muda kalbar dalam memandang pentingnya pemahaman bersama untuk melakukan perubahan dengan "POLA/BENTU" baru yang ditentukan bersama oleh sekelompok organisasi (OSIS), sederhana tapi merupakan cara yang termudah dengan melibatkan kesenagan anak didik dalam melakukan segenap tugas sekolah dan tugas orgaisasi, sungguh jelas penting peranan OSIS berpengaruh pada setiap warna-warni proses didik sekolah formalnya.

Kemudian, pesan dari Kepala Sekolah Bpk. Tri Joko Handoyo, S.Pd
Bahwa, perangkat OSIS adalah bagian sistem didik sekolah, oleh karena itu motivasi mengenal diri dengan karya jurnalistik sangat perlu dan dibutuhkan sekolah bahkan ketika hidup dalam lingkungan masyarakat. maka selanjutnya akan ada khusus jam belajar karya penguatan kepemimpina dan karya jurnalistik sederhanauntuk dijadikan semacam buletin sekolah.

Mudah-mudaha ini akan jadi ke-khas-an sekolah kita, juga kelak akan mengangkat nilai didik SMPN IV. tentunya mimpi itu akan terwujud jika respon dan kerjasama guru pembina terjadi dengan baik, asyik dan menarik, saranku.

Semangat, harapan dan janji diatas segera ditindaklanjuti Oleh Kepsek bersama OSIS, maka akan ada tindaklanjut dikemudian hari.

Tunggu ajal pelatihan perkembangan belajar bersama calon pemimpin muda kalbar selanjutnya....:)

Kamis, 02 Januari 2014

Aquaphonic System

Sistem tanam ternak, sayuran & ikan
konsumsi di dalam atau disekitar
Rumah Anda.
Ditengah kota kecil, pontianak timur kalimantan barat.
Seperti kota-kota kebanyakan di tanah air, menawarkan banyak variasi wisata sekitar rumah atau bahkan dalam rumah jika Anda mengingininya, sederhana namun langsung bisa diperlukan setiap kali kita merasa "sumpack" kurang mood, bosan atau ngerasa ga nyaman hati dengan suasana sekitar yang serba terbatas.





Nah, sahabat blogku.
Ini adalah sebuah konsep "turism" sederhana. Ini juga bisa menjadi alternative senam otak bagi kita orang kota, hhhe.... pada sewaktu-waktu kita perlu penyegaran dari padatnya rutinitas keseharian. cukup dengan hanya memandang hijaunya tetumbuhan dan sayuran, ikan-ikan konsumsi dan peliharaan dibawahnya, juga keceriaan suasana angin antara sela pemisah air da tanaman, serta ikan dan kolam buatan Anda. Asyik khan....?

Senin, 11 November 2013

Seri Kilas Balik sejarah Cabe Dalam Kehidupan

Seja tahun 2015, pada musim gagal panen padi akibat ladang warga terserag hama "Belalang kumbara" maka 360 derajat pola perladangan berpindah berubah seketika. perubahan itu seketika tanpa disulap, tapi ini adalah suatu keharusan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, entah beralih lahan ladang menjadi apa saja asal bisa menghasilkan makan bagi keluarga.

Pergolakan nasib 2005, sungguh besar pengaruh bagi masyarakat yg berpola pertanian tradisional dipaksa keadaan menjadi petani budidaya.
tanaman yg menjadi budidaya masyarakat antara lain; terong asam, kucai, jahe, kunyit, tebu, kacang tanah, semangka, ensabi, bayam, perenggi, peria, gambas, cabe dll. semasa musim paceklik ini adalah masa yang sangat memiluka, kelaparan mengancam sampai keujung negeri sintang. sebuah kampung yang akses infrastrukturnya tak layak dinikmati dnegan segala cerita hak-hak dasar seagai warga negara menambah iba anak-beranak seketurunan warga pakak. saat itu masih 275 KK penghuni pakak saling menghibur sambil berkuli menuntut sesuap nasi kepada rentenir yang adalah keluarga mereka juga. masa ini sungguh sulit, persediaan sebelumnya tak cukup untuk sebulan, karna jelas sesuap dibagi seketuruan

Bersambung....

Minggu, 01 September 2013

Apai Aloy Nebang Uma Senuak
By: Bosio

Beduruk Nebas-nebang
Temporer
Lam tinuk Kenyung, Apai Alui bamuk Nebang Uma di Sungai Jelapik. Nadai jauh ari temawai munguk berangan. 
Lusih, Bini ya ninga amukya. Ngasa piak , Ia bepesan ngau lakiya. Uuu Tabab…. 
Antika nebang kuma, ingatke “pengkal” awak pemani Dayang Peteri, sake pagi-lusake ya agik ka beranau ngau kitai kituk….!!

Auk Lusih, ketau pengan-ketau….. 
nadai kelupa, miak manak pe sidak Ibu di Genik Ridan bepesan meliak.
Udah me simpanke aku bekal diak, nasik se-kepal, garam se-ketup, berusit se-jeput. Nyakme ulih Alui ngelangkang desungai besai kemari, pemaik detungkus ngau daun beman. Simpan diak sik cupai bualai datau parak, pengemaikku subak.

Auk Tabab-auk, ketau pangan-ketau…. tuk dekaitke awak penukai, ilak bah. aku ka ngejung Antu dadak mansai kuluyin, deletang gerunang.

Dah mayuh amuk-pesan uga ari binie, angkatlah Tabab-yang adalah Apai Alui. Jauh-sejauh pejalai e, nengah temawai, nengah belayan lalang, negah belayan rangki. Pejalai e lukuh-kelukuh, tingih-baruh, tengelam-tungul, naik batang-nurun ribang. Ndai lamat asa, masak mudak dipengkal Sengkumang. Ngengkumit…. Uuuu… Ngkumit… (pengumi Apai Alui ngau ya) ditu mih…?

Empai sikninga saut mensia, ngasa piak agik penasaran the Apai Alui, samil bepikir “amang agik masan bubu mayatu gipetang-kemesang?, amang uga agi manic depengkal Dayng Peteri?, ih ih Ngkumit celaka deh berani mat ngingin pangan, ngkak diri maik-e. te-tetapi amang agi tinuk uga, malum ngkumit tuk bisak akal-e sakke pangan ndai mintak Lekaue semalam.

Ngasa bingung, samil nebak-reka. Naiklah kepalak tangak Sengkumit. Tilik ya ari pelawak ndai sik beringut-ngkebut mensia, sampai tiga kali ngumai Ngkumit baka nesik  leka mensia, ngasa piak penasaran tabab semakin nyumput, maka tukai ya pelawak pintu Sengkumit, prap pak-pak-pak… apai Alui tesungkam jatu ngenak pelangan sengkumit pas ngau pemerik nuting/babi tegi jepit.
Akeh-akeh-akeh……

Senin, 12 Agustus 2013

Menjelang Kemerdekaan

Rasa getir, berderap, masih dalam ingatan selalu.
penuh kenangan, dulu adalah perjuangan yg dikisahkan sekarang, meraba-raba, sulit diverifikasi ulang, saling klaim.


awal kata selalu, Dulu..... atau saat, suatu saat, waktu itu, semuanya terkesan mengenang, populernya bernostalgia masa-masa sulit. ada rasa keperkasaan. ada rasa riskan. ada rasa geram. ada rasa cemburu yg membara. ada rasa kecewa. ada pembelajaran atas situasi "diantara" !

sayang kita sekarang tidak mengalami masa-masa itu, memilukan, kenangan menyendat aliran darah, menyeka tenggorokan, angin memenuhi rongga hidung siapapun anak-cucunya.
kisah - kisah samar, menakutkan, membayangi nasib kelak. apakah kita mash mampu bertahan dalam petaka romantik darah bersimbah dipikiran zaman?

waktu itu, masa pendudukan Belanda disetiap daerah bagian kesultanan, kerajaan, ketemenggungan di Nusantara pemerintahan dinamakan dengan pemerintahan Hindia-Belanda. tujuannya hanya ingin berekspansi trand wilayah kekuasaan seperti negara-negara Eropa lainnya.
dalam masa lebih dari 3 generasi penguasaan wilayah oleh Hindia-Belanda, banyak hal berubah seketika dengan campur tangan Manusia.

tak banyak kami ingat kembali, diabad 20 an. hanya sayup-sayup pengakuan tinta yg berusaha menyaduh berbagai sumber purah Tokoh Tetua melengkappinya, pun samar-samar arti.

kisah-kisah pejuang masih melekat hingga hari ini. tak terelakan, sungguh

Bersambung

Kamis, 13 Juni 2013

Cari Kerja untuk memperbaiki nasib

Pak Asikin, Tukang Bangunan Profesional asal Madura berdomisili di Pontianak
Suatu hari, banyak anak-anak muda mencari pekerjaan yang layak. maka berjumpalah Pak Asikin suatu ketika dengan segerombolan pemuda yang rata-rata berbadan sintal, karena memang olahragawan pada setiap proyek pembangunan pemerintah.

Terjadilah percakapan diantara para pemuda dan Pak Asikin

Cinta

Berkata cinta masih tetap Semu
Berpikiran tentang cinta, akan galau
Merasakan cinta akan menuntut pengorbanan
Melahirkan cinta maka harus Mwnikah, hhhhaa

Kamis, 23 Mei 2013

Bertahan dalam Akses Batas Negara

Hari ini dapa pengalaman baru lagi
ini kali ke-2 nya disyuting oleh wartawa TV Nasional.
kalau dulu Raksasa nasional, hari ini anakan media elektronik diantara raksasa itu. bukan juga secara kebetulan narsis, tapi karna pernah melatih ORANG KAMPUNG menulis di internet untuk memberikan informasi sebagai warga negara terkini langsung kepada publik dunia maupun pemerintah struktural RI.

Temanya sederhana saja bagaimana masyarakat menuliskan pengalaan sehari-hari disekitar kampung masing-masing 5 kabupaten perbatasan dengan ragam kebutuhan mendesak. paling mereka hanya butuh halihal sederhana seperti energi Listrik, akses informasi juga transformasi.

kalau menyimak, melihat, merasakan dalam lebur diaktivitas keseharian mereka, kita dapat dipastkan akan menemui beberapa kendala. diataranya bagi kita yang sudah terbiasa menggunakan energi listrik disetiap berkegiatan, misal perlu charger Hp, Labtop, DVD/CD, hingga nonton TV tidak bisa seharian atau 24 jam. disana terbatas, kita bisa menikmati itu semua jika malam hari saja (pukul 18:00-20:00) kalaupun pingin 24 jam maka kita harus membeli solar/bensin seharga Rp. 10.000-12.000,- per liter x 2 Ltr per jam jadi total Rp. 240.000 - 288.000,- kalau saja sebulan penuh maka total Rp. 8.640.000. fantastis, luar biasa dan sangat menggelikan. hanya untuk mendapatkan kemudahan komunikasi saja dalam 1 bulan perlu nominal hampir 10 juta rupiah, belum kebutuhan sembako, pangan dan papan, entertain, dll....

sungguhpun mengalami hal ikhwal diatas, warga perbatasan masih senang dan bertahan dalam keadaan itu. mereka mencoba melakukan banyak upaya alternative untuk bertahan hidup dalam serba keterbatasan akses. 

Minggu, 05 Mei 2013

Pandangan vs Jati Diri


Hidupku berteduh pada pikiran
Bertahan selalu akan Pengalaman
Bersayup di-Sudut kota, WEST BORNEO
 Tempo kini ku-tak tampak,namu menetap disekujur aliran nadi : Bateng, Beringin, Bintang warna biru, dan lahir disetiap banyak tanda, hingga Pada gerakan perubahan, Kata "mereka"

Masih pada kata "mereka"
Hidupku akan enak, akan nyaman, akan tentram, akan sejahtera
Hanya Jika =, dengan satu syarat !
Aku menyerahkan bagian-perbagian dari anggota tubuh-Ku
Dilucuti, tanpa sepengetahuan-Ku, tanpa surat perintah, entah darimana?
Ada Perjuangan...... Perlawanan....

Senin, 22 April 2013

Kearifan Komunitas

Hidup dalam zamannya
Manusia di tanah air sepanjang nusantara, hidup dengan kebiasaankomunitas masing-masing satuan masyarakatnya.
dalam keseharian membentuk siklus kehidupan per-skala waktu tertentu dan diwarisi oleh generasi berikutnya. pengalaman-pengalaman hidup bersama dengan masyarakat lainnya, bersama alam ciptaan yang Maha Kuasa serta pemanfaatan hingga jalinan magis pelestarian ekosistem tradisional lahir semenjak komunitas terbentuk dan ditersukan hingga sekarang.
keseharian ekosistem itu menempa alam sekitar, bagi Manusia yang merupakan bagian dari ekosistem itu sendiri, mendapat porsi yang baik bisa memanfaatkan bagian ekosistem lainya sekedar bertahan hidup. pada prinsipnya untuk kesejahteraan bersama, berkenan untuk kebaikan alam simbiosis mahkluk. sederet ragam keseharian bagi manusia memang bagaimana mengambil manfaat seperlunya dari hutan untuk berburu dan meramu serta untuk kepentingan obat-obatan tradisional, sungai sebagai tempat mencari lauk - pauk, tanah untuk berladang dan bercocok-tanam hingga manfaat lainnya.

bagi tetumbuhan, takan pernah menjerit jika termanfaatkan tanpa budaya, sekali-sekala hanya menyungguhkan ekspresi kejadian alam sebagai peringatan dibalik fungsinya penyedia segala kebutuhan konpleks mahkluk sekitar.

Bagi Hewan dan Binatang, sungguh luar biasa berjasa menyediakan tali-temali untuk rantai makanan hingga membentuk hubungan timbal-balik antara manusia-tetumbuha-hewan dan binatang-serta alam magis saling terhubung ke-bagian peran dalam ekosistem seiring waktu.

perlu hubungan harmonis untuk mempertahankannya

Selasa, 09 April 2013

pada tanggal 9 pagi dihari selasa bulan apri tahun 2013
saya berkesempatan nginap di Rumah Pak Anton Guru PNS SD di kampung Sungai Bening kecamatan sajingan, hanya 8 km sebelum Border Aruk Kabupaten Sambas.

pukul 06.00 pagi Deni sudah menuju sekolah, saya kelas tiga (3), saya paling suka main bola, kemudian disusul juga oleh murid yang lain. tapak dengan semnagatnya Deni mengayunkan kakinya sembari mengajak Musni dan saudaranya yang sedang memasang sepatu.semarak sepanjang kampung Sungai Bening ditancap kayu Glagar, di cat warna merah putih mewakili warna kedaulatan Indonesia, karna hari ini hari selasa semakin menambah rancak suasana kampung, ternyata memang semnagat ke-Indonesia-an kini tetap melekat di batas negara.
semangat para murid menuju sekolah terlihat antusias, Kami paling senang kalau setiap hari bisa belajar di sekolah, karena sepulang sekolah kami juga ikut orangtua ke ladang, sekarang sedang musim bahanyi (panen) ataupun ke-kebun kopi, lada dan karet, kata Deni. jika malam hari sepulang dari kebun kami langsung mandi di sungai, malam kalau tidak capek belajar pake lampu "Gulita" (pelita),lalu langsung tisur, begitulah setiap harinya. memang di sini tidak ada penerangan PLN. kaluapun ada di kota kecamatan atau di kawasan Border Aruk, kami ngalir dari Listrik Saudara kami di sebelah (bagian malaysia timur distric Lundu) sambung Pak Sobot Sekretaris Desa Sabunga, sebuah Desa yang secra kebetulan dilalui jalur Border, seolah diuntungkan dengan adanya Border, namun mereka tidaklah sebebas dahulu berpergian mengunjungi sanak-saudaranya ketika belum ada Border, kami hanya bisa kesana dengan radius 500 meter, padahal rumah kami bersebelahan, jika mau saling mengunjungi untuk sejenak tahu kabar keluarga, kami harus menggunakan passport atau kalau mau aman bayar RM.30, kami juga perlu makan tambah penjaga Border.

situasi ini bisa saja berubah jika kita semua di sejahterakan!